Dimulai dari ajakan seorang teman untuk mendaki Gunung Panderman yang ada di belakang rumah. Udah 15 tahun tinggal disini tapi masih belum pernah menjajal mendaki gunung ini. Sekali muncak memang masih kurang, hasilnya kegiatan sebulan sekali adalah muncak gunung Panderman dengan berbagai jalur. dimulai dari obrolan iseng iseng untuk menjajal gunung yang lain. Akhirnya janjian setelah Ujian Tengah Semester coba naik gunung Bromo yang masih ringan(walau berpasir). Setelah mendaki gunung Bromo iseng iseng ngelirik gunung yang lain. Ternyata dia adalah Semeru. Gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Gunung tempat tinggal para dewa. Ingin dalam hati menaklukkan puncaknya. Setelah ngobrol ringan akhirnya diputuskan untuk menjajal Mahameru sebelum Ujian Nasional dilangsungkan.
Persiapan dimulai dari 9.0 (bc:sembilan kosong)* yang merupakan markas sekaligus sekretariat kami. Pagi – pagi hari dengan harapan maghrib sudah bisa mencapai Ranu Kumbolo. Perjalanan ke Semeru, dipilih dimulai dari Tumpang. Maksud hati mau naik angkutan kota menuju Tumpang, akan tetapi banyaknya perlengkapan yang dibawa dirasa membuat ribet jika harus naik turun angkutan. Apalagi kalau dari Dinoyo ke Tumpang harus oper 2 kali angkutan. Pertama dari Dinoyo bisa naik angkot LDG ato ADL setelah itu turun di terminal Arjosari dan oper dengan Angkutan berwarna putih menuju ke Tumpang.
Karena ribetnya itu, maka kami memilih untuk naik motor menuju Tumpang, berangkat dari Malang sekitar pukul 08.00 pagi kami menyusuri jalanan kota Malang menuju Tumpang. Adapun untuk mencapai Ranu Pane, yang merupakan desa terakhir di kaki gunung Semeru, dari Tumpang harus mencari angkutan yang menuju kesana. Adatnya, dalam sehari ada beberapa truk yang naik kesana untuk mengantar berbagai kebutuhan warga Ranu Pane, yang dipasok dari pasar Tumpang. Di Tumpang cukup lama juga kami menunggu kendaraan yang ke Ranu Pane. Setiap truk yang melintas kita tanyai apakah menuju ke Ranu Pane atau tidak. Cukup lama kami menunggu, sampai – sampai rasanya mau putus asa, sudah berangkat hanya bertiga, sampai siang tak satupun kendaraan yang menuju Ranu Pane.
Namun penantian kami tak sia – sia, truk yang hendak ke Ranu Pane akhirnya melintas juga. Truk terakhir hari itu. Truk mulai melaju naik ke Ranu Pane, membelah jalanan Tumpang yang sempit dan cukup banyak lubang. Di atas truk ada beberapa lelaki yang ikut naik. Truk tersebut membawa muatan cukup banyak, mulai dari barang belanjaan titipan warga seperti tahu, tempe, dan aneka lauk pauk, berbagai bahan bangunan, hingga berbagai makanan kemasan. Diatas truk, aku berkenalan dengan salah seorang warga Ranu Pane. Orang desa memanggilnya Moi, karena orangnya cukup putih, tidak seperti kebiasaan warna kulit masyarakat Ranu Pane. Moi, yang asli orang Bandung, merantau sampai Ranu Pane, dan membuka sebuah toko kelontong serta warung makan yang sederhana. Perjalanan dari Tumpang ke Ranu Pane menyajikan pemandangan yang cukup indah. Hutan – hutan yang masih hijau dan terlihat begitu segar. Semakin jauh meninggalkan Tumpang, jalanan semakin menanjak dan udara mulai terasa dingin. Ketika barisan Gunung Bromo yang terletak di tengah – tengah lautan pasir mulai terlihat, jalanan semakin rusak, namun keindahan Gunung Bromo yang terlihat dari atas membuat perjalanan yang kurang nyaman tersebut terobati. Hamparan laut pasir yang cukup luas, dengan Gunung Bromo ditengah-tengahnya sungguh indah. Suatu bukti kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa.
Sekitar pukul 12.30 kami tiba di desa Ranu Pane. Sengaja aku ikut truk tersebut berkeliling desa, mengantarkan berbagai kebutuhan warga yang di bawa dari Tumpang. Desa Ranu Pane cukup asri juga, sebuah desa pertanian dengan masyarakatnya yang multi agama. Namun mereka bisa hidup rukun. Masjid, gereja, dan Pura berada dalam satu desa kecil di lereng Semeru. Masyarkatnya pun cukup ramah, mereka menyapaku meski tidak ada satupun dari mereka yang aku kenal.
Sesampainya disana kami diajak mampir oleh salah seorang warga di Ranu Pane. Namanya Pak Zain. Beliau cukup ramah sekali. Bahkan sebelum berangkat kami sempat makan dirumah beliau, cukup mewah makanannya. Sayur lodeh, beserta telur ceplok, dan sambal. Disamping itu tak lupa tersedia pula secangkir kopi panas. Sungguh pas sekali dengan suasana dinginnya lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Setelah sholat dhuhur di Ranu Pane kami melanjutkan perjalanan ke Pos pertama pendakian Semeru. Pos pertama ini merupakan pos induk, jadi semua orang yang bermaksud untuk mendaki Semeru harus melapor dulu ke Pos ini, yang terletak di desa Ranu Pane. Penjaga Pos cukup ramah sekali dan memberikan pelayanan yang menyenangkan. Dalam pos ini terdapat pula peta jalur pendakian ke semeru. Kami harus mencatatkan identitas diri kami di pos ini, berikut barang bawaan kami. Petugas disana berpesan agar kami senantiasa menjaga kelestarian Semeru dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak mengambil apapun dari Semeru. Kami mendapatkan penjelasan segala sesuatu tentang Semeru, sebelum akhirnya berangkat.
Meninggalkan pos utama sekitar pukul 14.00 kami melewati beberapa bukit kecil yang lerengnya telah gundul, berubah fungsi sebagai lahan pertanian yang ditanami wortel, kubis, dan kentang. Jalanan terbentang lebar dan bagus, meskipun cukup berdebu. Namun jalan ini jauh lebih baik daripada trek pendakian ke bukit Panderman. Semakin jauh meninggalkan Ranu Pane, pemandangan berganti hutan tropis yang lebat. Pohon – pohan besar menjulang, memamerkan kegagahannya. Udara begitu segar, dan jalan semakin licin, krena udara semakin lembab. Di tengah perjalanan kami sempat berpapasan dengan pendaki dari Jakarta yang membawa sepeda naik ke puncak. Mereka bercerita bahwa ada beberapa pendaki juga yang menuju ke puncak.
Sampai di Ranu Kumbolo, penat yang ku rasakan berganti dengan kepuasan yang tidak terkira. Sungguh indah sebuah danau yang terletak beberapa ribu kilometer dari permukaan laut. Maka disana kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami mengeluarkan perbekalan dan mulai memasak. Tak lupa kami juga mengisi botol air minum yang telah kosong. Air Ranu Kumbolo cukup segar dan menyegarkan. Tak lupa aku menyempatkan diri untuk Sholat Ashar ditepi danau. Setelah gelap, kami meneruskan perjalanan mengitari danau. Saat itu pemandangan cukup indah, bulan purnama yang cerah bayangnnya terpantul di riak – riak kecil Ranu Kumbolo. Belum lama berjalan kami sampai di Pos Ranukumbolo, disini tersedia sebuah pondok sederhana terbuat dari kayu. Ternyata disana sudah ada beberapa pendaki yang tiba terlebih dahulu, termasuk sepasang turis asal Swedia. Dari sinilah salah satu anggota kami, teman saya dinank mulai merasakan sakit. Dia cukup kelelahan. Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat lebih lama di pondok tersebut. Pondok ini cukup luas juga, dengan amben yang cukup luas didalamnya, yang bisa memuat banyak orang. Didalamnya sudah ada api unggun, entah siapa yang membuatnya. Yang jelas kehadiran api unggun tersebut membuat seluruh ruangan dalam pondok itu terasa begitu hangat.
Untuk mengejar waktu pendakian teman saya yang lain berangkat terlebih dahulu. Saya dan teman saya dinank tidak jadi melanjutkan perjalanan karena memang dinank sudah tidak kuat lagi. Perjalanan saya pun hanya sampai Ranu Kumbolo. Cukup memuaskan memang, tapi suatu saat saya harus menaklukkan Mahameru. Entah itu kapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar