Hesti hanya bisa berdiri terpaku menapat merahnya langit Senja. Sore seperti ini biasanya adalah miliknya dan Buya. Tapi kini cowok itu sudah pergi. Minggu lalu Buya memutuskan untuk ikut kakanya pindah ke Jakarta, meniggalkan Hesti sendiri. Padahal Hesti sudah percaya kata kata Buya bahwa Buya tidak akan meninggalkannya disini sendiri, meskipun itu berarti Buya harus kembali tinggal dengan orang tuanya. Tapi itu semua hanya janji.
Hesti tidak mengantarkan kepergian Buya ke bandara. Bahkan surat terakhir dari cowok itupun Hesti tak berani membukanya. Dibiarkannnya diatas meja, hingga Mbak Sri membuangnya ke sampah.
----- *** ----------------
Sore ini masih sama seperti sore sore yang kemarin. Malang kini sudah seperti jakarta saja, pualng lebih lambat 5 menit saja sudah bisa membuat kita terjebak macet seja lebih. Sepulang dari kerja Hesti tak langsung mandi. Dia membaca baca berita terlebih dahulu lewat iPad miliknya. Membuka facebook, kalau saja Buya mengiriminya pesan. Tapi itu semua hanya harapnya saja.
Terdengar pintu diketuk, Hesti membukakan pintu., berharap itu Buya.
'Hey, Hes. Lo gak les bahasa Jepang?? Sekarang kan Rabu?". Luna, teman Hesti sejak SMP.
'Enggak, capek gue. Pengen rehat barang sebentar."
"Oh, mikirin Buya yah? Cari cowok lain kenapa sih Hes?" Ujar Luna sembari membuka buka majalah yang teronggok di meja.
Hesti meringis 'Ga usah ngomongin itu cowok, please. Makin ga bener gue ntar lama lama mikirin dia mulu".
Hesti senyum simpul dsaja. Tak menggubris apa yang dikatakan Hesti
'Gue mandi dulu yah, udah gerah banget ini. Bau" ujar Hesti sembari nyambit handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Luna cuma mengangguk, tenggelam dalam majalah yang dibacanya.
--------- *** ----------
Masih seperti senja senja yang biasanya. Kali ini Hesti juga menatap langti senja sendirian. Hanya dengan snack dan duduk di jok mobil yang terbuka menghadap ke laut. Hesti kembali menghembuskan napas panjang. Berharap ingatannya bersama Buya ikut terhempas di bawa ombak.
'Sendirian saja? Boleh saya temani? ujar seorang cowok.
Sekilas tampak tampan, garis rahangnya keras. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi cukup bersih untuk ukuran cowok. Rambutnya yang dipotong pendek lurus membuat rahangnya lebih terlihat kokoh.
'Emm, ya sudah kalau begitu. Sorry kalalu menganggu' ujar cowok tersebut sembari beranjak eprgi
'Ah! Enggak kok.' teriak Hesti. 'Sorry, agak ngelamun tadi' ujar Hesti sambil meringis. Cowok itu tersenyum, Taring gignya sebelah kanan sedikit mencuat. Manis, pikir Hesti
'Aku Arya', ucap cowok itu sambil menyodorkan tangannya ke arah Hesti untuk berjabat tangan.
'Hesti', sambut Hesti sambil berjabat tangan. Senyum lebar menggantung di bibirnya.
'Biasanya nongkrong disini?' tanya Arya sambil mencomot snack yang ada. Hesti hanya mengangguk
'Sendiri atau.. 'Arya tak melanjutkan kata kata nya.
Hesti tersenyum lebar 'Biasanya sama cowok gue, tapi dia uda pergi ke Jakarta sekarang, jadi mungkin untuk beberapa waktu bakal nongkrong sendirian, hehehe' Hesti nyengir. Mencoba menutupi kegetiran hatinya
'Oh, jadi gitu. Aku baru disini. Baru seminggu kemarin pindah ke Balikpapan. Ayahku pindah tugas kesini, jadi mau tak mau kami sekeluarga pindah kesini', ujar Arya bercerita
Kemudian mereka terlibat percakapan ringan hingga matahari benar benar tergelincir, menghilang di batas cakrawala.
---------- ***** -----------
"Hestiiii~" teriak Luna begitu sampai di rumah Hesti.
'Apaan sih? tumben kesini ga ngomong ngomong dulu buk?" ujar Hesti sambil mengeringkan rambutnya setelah selesai mandi
'Kenapa? Ga boleh? Lo kok ga ngomong ngomong sih udah punya gebetan baru?' cerocos Luna sambil menatap Hesti
'Gebetan apaan? Dapet gosip darimana lagi ini?' elak Hesti
'Alaah, itu cowok yang kemarin jalan sama elo di Gramed?' ujar Luna tak mau kalah. Hesti berfikir sesaat, flashback kejadian kemarin sore.
'ooohh, Arya. Yaelah. bukan gebetan gue itu. Temen doang.' ujar Hesti sambil nyengir
'Serius?', tanya Luna sambil terbelalak
'Iya, dia tuh anak baru disini, ga tau kemana mana. Makanya gue anterin kemana mana. Soalnya dia cuma punya kenalan gue' terang Hesti
'Kok lo bisa kenal orang cakep gitu sih ??', envy Luna sambil meringis gaya abege
'kebetulan doang kale ketemu di pantai, gue kan biasanya nongkrong disitu. Eh itu orang nongkrong', jawab Hesti santai
'Lo ga tertarik sama tuh cowok, Hes?', tanya Luna penasaran. Hesti menggeleng polos.
'Yes!!!', Luna mengepalkan tangannya ke udara, 'kenalin ke gue dong, Hessss', pinta Luna
'Iya iyaa~', jawab Hesti dari dalam kamar
'Lo mau jalan sama dia sekarang? Mau kemana? ikut dooonnngg', pinta Luna manja
'Mmm.. gimana yah, gue belum ngomong sama Arya nih, gue takut ga enak. Kita mau jalan jalan doang sih, nyari oleh oleh buat temen temennya Arya di Jakarta, tapi mau makan dulu', jawab Hesti agak segan.
'Yaudahlah gak papa. Dia orangnya kayaknya baik kok. Kayaknya boleh sih kalau gue ikut, yah yah.. pleaaasseeee', pinta Luna memohon. Hesti sudah ga bisa berkata apa apa, cuma bisa mengangguk lemas. Seketika Luna kegirangan dan langsung masuk ke kamar Hesti, pinjam alat make up dan mulai merias diri.
Jam 7 malem Hesti dan Luna sudah sampai di Rumah Makan Manado, kali ini mereka tiba lebih dulu daripada Arya. Begitu memesan tempat mereka langsung pesan minum. Bebebrapa menit kemudian Arya datang. Dia mengenakan kaos oblong dipadu dengan jins belel biasa. Ditambah sepatu kets berwarna senada.
'Hei kenalin, ini temen gue, namanya Luna', ucap Hesti seraya mengenalkan Luna kepada Buya.
'Hei, Buya', ujar Buya menyodorkan tangan
'Luna', jawab Luna sambil menjabat tangan Buya. Senyum manis tak lupa dia lemparkan kepada Buya.
'Sori, udah nunggu lama yah? Tad musti jemput mama dulu, biasa. Habis dari arisan ibu inbu. Gue ga habis pikir yah, kenapa cewek tuh suka banget ngerumpi gitu', kata Arya sambil sedikit mengacak acak rambutnya yang memang sudah acak acakaan.
'Hehe, biasa cewek kan banyak hal yang pengen diomongin :D terkdang cewek juga cuma pengen pcerita cerita doang, kiling time :D', jawab Luna tangkas. Arya senyum doang.
Bebrrapa menit kemudian minuman datang, dan mereka pun memesan makanan.
'Btw lo mau cari oleh oleh apa, Ya? kata Hesti buat temen temen lo di Jakarta yah?', tanya Luna memulai pembicaraan.
'Apaun sih, asal asli Balikpapan aja. Udah pada bersiik ngemail gue mulu soalnya', jawab Arya tangkas.
'mau cari dimana, Ya?',tanya Hesti yang sedari tadi diam saja
'Terserah lo deh hes, gue kan ga tau daerah sini', jawab Arya.
'Yaudah ntar nyari di daerah kilang minyak disana aja. gimana?', tanya Luna semangat.
'Ayo. boleh tuh. si Hesti ga pernah ngajak gue kesana kayaknya', jawab Arya girng sambil melirik Hesti. Hesti nyengir saja.
Begitu makanan datang tanpa banyak ba bi bu mereka segera menyantap makanan masing masing.
'Tuh dimulut kamu ada saosnya tuh', ujar Arya sambil melap ujung bibir Hesti menggunakan tissue yang ada. Hesti langsung terkesiap dan membersihkan mulutnya
'Eh, iya, thanks'.
Luna terkesiap melihat kejadian barusan. Ia sadar ia tak seharusnya berada disini, karena ia sadar Arya sudah mulai menaruh hati kepada hesti.
Setelah makan Luna pamit ke kamar mandi sebentar. Arya masih tetap bersikap cuek, seolah olah tidak terjadi apa apa. Sementara Hesti sibuk menta kembali hatinya karena kejadian tadi. Beberapa menit kemudian Hesti mendapat pesan singkat dari Luna, mengatakan bahwa dirinya bertemu seorang teman lama di toko buku sebelah, dan mereka berencana untuk mencari komik bakabon kesukaan Luna bersama sama.
Well, akhirnya Hesti mengantrkan Arya mencari oleh oleh sendiri ke daerah Kilang Minyak.
Ternyata cowok ini cukup boros juga, mulai cincin hingga batu batuan khas Kalimantan diborongnya.
'Temen ku banyak soalnya, jadi sekalian. lagian kalau beli banyak kan lebih murah', kata Arya. Hesti sendiri hanya membeli tikar anyaman untuk di kamarnya.
Selepas membelii oleh oleh mereka pulang .
'Yakin nih ga masu dulu? Orang tua ku lagi di rumah semua lho', tawar Arya begitu mereka sampai di depan rumah Arya.
'Enggak deh Ya, next time aja. Udah malem. Tar gue ketiduran lagi', canda hesti.
'yaudah gak papa, ada kamar kosong kok di rumah gue. Ayo', ajak Arya.
Udah enggak deh, udah malem. gue mau balik. Pegel pgel badan gue', elak Hesti
'Yaudah deh kalau gitu, thanks lho yah.'
'Yook, gue balik dulu yah', pamit Hesti seraya menghidupkan mesin mobilnya.
---------- ***** ----------
Dan sore ini masih seperti sore sore yang sebelumnya. Ombak masih berkejar kerjaran, menyapu butiran pasir yang ada di pantai, membawa apaun yang ada di bibir pantai ke lautan. Hesti masih duduk di jok mobil, kali ini dia tidak sendiri. Ada Arya menemaninya
'Kenapa Senja itu begitu indah yah?', tanya Arya sambil menerawang.
'Karena memang dia diciptakan untuk memperindah bumi in ika. Halah ngomong apaan sih gue, ko ngaco gini,' jawab Hesti berseloroh
'Ga berasa yah, udah 6 bulan aku disini. Kayak baru kemari lho padahal aku nyampe sini.', ujar Arya
'Iya yah, kayak baru kemarin,' lirih Hesti menyanggupi. Di dalam hatinya masih teringat Buya, secuil ingatan mencuat. Bagaimana mereka menatap awan senja bersama sama, bagaimana Buya selalu membuatnya tertawa. Tapi itu semua tinggal kenangan. Sudah satu semester di Jakarta, Buya pasti sudah punya cewek baru, pikir Hesti.
'Hes, lo kok diem. lo sakit?', tanya Arya.
'hah? enggak.gue fine fine aja kok. lebih prefer hening aja', jawab Hesti sembari tersenyum.
'Betewe ya Hes, lo mau ga sih jadi cewek gue?', tanya Arya datar sambil tetap menatap lurus ke arah cakrawala. Hesti terperangah, tidak mengira kalau Arya akan mengatakan hal itu secepat ini. Hesti menoleh ke arah Arya, wajahnya terlihat datar, biasa biasa saja, tapi jelas dia menyembunyikan gemuruh hatinya juga dibalik topeng datarnya. Sama seperti Hesti
'Gue ga tau Ya, gue masih belum bisa nata hati gue sendiri sekarang', jawab Hesti pelan.
Arya cuma tersenyum, sedikit getir mendengar jawaban seperti itu. Dia pikir 6 bulan cukup untuk Hesti melupakan Buya dan menerimanya. Tapi ternyata belum
'Yaudah kalau gitu, jalanin aja apa yang ada', kata Arya bijak. Hesti mengangguk
'Balik yuk, udah mulai gelap. Lo jadi pinjem tenda gue gak?'
'Eh iya, Hes. Gue lupa. Gue mesti pinjem tenda. yaudah, balik yuk', ajak Arya
Mereka pun pergi ke rumah Hesti untuk mengantarkan Hesti pulang sekalian ngambil tenda Hesti untuk dipinjem Arya.
'Gue ambil tenda dulu deh ya', pamit Hesti begitu mereka sampai depan rumah Hesti.'Lo amsuk dulu kan?', tanya Hesti
'Yoi coy, gue masuk dulu kok. Masa iya elo yang angkat tenda nya sih', canda Arya sambil mengedip jahil.
'Dasar genit', seloroh Hesti sambil menutup pintu mobil Arya.
Begitu masuk rumah Hesti kaget melihat Buya duduk di ruang tamu. Dia berdiri terpaku, ga tau musti bagaimana.
'Hey Hes, apa kabar? Lama ga ketemu yah', ucap Buya memecah kesunyian.
'Seketika Hesti berlari ke arah Buya, memeluk laki laki itu, ada kerinduan yang membuncah di dalam hatinya, perasaan kehilangan yang kemarin sempat dia kubur sekarang mencuat, tumpah dalam tangisnya. Buya tersenyum sambil mengelus rambut perempuan yang 6 bulan ini dia tinggalkan. Tapi kemudian Hesti serasa mendapat petir di siang bolong, Arya berdiri di depan pintunya. Terlihat marah mengetahui Buya kembali dan Hesti menyambut kepulangan Buya. Kemudian Arya pergi, Hesti ingin mengejar tetapi tangannya ditarik oleh Buya, memaksanya tetap disini. Terdengar suara pintu mobil ditutup sangat keras, pasti Arya. Kemudian Arya pun hengkang dari rumah Hesti.
'Kamu gimana kabar? Ga pernah bales surat aku? Kenapa Hes?', tanyaBuya memecah keheningan.
'Aku ga tau Ya', jawab Hesti lirih. Surat surat yang dikirimkan Buya memang sampai ke tangannya. Tapi hanya menumpuk di laci meja nya. Hesti tak berani membukanya, pun tak ingin membukanya.
'Itu tadi cowok kamu?', tanya Buya khawatir
'Buakn, dia.. temen aku', jawab Hesti berat
'Oh. Aku tetep inget kamu kok Hes meskipun kita jauh, aku juga masih sayang kamu', ujar Buya. Hesti mengangguk.
'Kamu disini sampai kapan?' tanya Hesti
'Aku lseminggu doang disni. Ada libur semesteran, bulan depan aku ngurus kepindahan kesini. Kamu bisa kan nunggu aku?', pinta Buya. Ada sedikit perasaan bahagia mendengar Buya akan kembali lagi kesini. Itu artinya mereka bisa bertemu setiap hari. Tapi perasaan benci karena ditingalkan juga muncul tak sedikit di dalam hati Hesti.
'Aku ga tau ya, 6 Bulan ini aku udah coba lupain kamu, aku pengen coba semua dari awal lagi aja ya', jawab Hesti pasrah Buya terkesiap, tak mengira jawaban seperti itu yang akan dia dapatkan. Settau nya Hesti sangat menyayanginya, tapi kenapa sekarang ...
Buya menghela nafas, 'Gak papa kok Hes, kamuboleh mengulang semua dari awal, akupun juga akan seperti itu. Aku akan buat kamu kembali kepadaku lagi. Aku pulang dulu yah, kamu istirahat aja. Capek banget kayaknya.' ujar Buya. Dia berdiri dan segera berlalu. Hesti masih disitu, tak percaya akan kata katanya terhadap Buya barusan, bukankah dia sangat menginginkan Buya? tapi kenapa malah kata kata seperti itu yang keluar dari mulutnya?
---------- ***** ----------
Sore ini sedikit berbeda bagi Hesti. Terlihat lebih cerah langit Senja sore ini. Ombak juga terdengar lebihh halus deburannya, Semua terasa santai bagi Hesti sore ini, karena hatinya sudah mantap melangkah. Berharap sore seperti ini akan tetap bisa dia rasakan untuk beberapa dekade kedpean, tidak sendiri, tapi ebrsama sama.
'Sore ini lebih seger yah?', ujar Hesti berbinar binar.
'Biasa aja sih, kayak pertama kita duduk disini dulu aja'
'mm.. sepertinya iya, tapi tetep aja sore yang kali ini lebih spesial rasanya'
Arya tersenyum. Tangannya merengkuh bahu Hesti. Hesti mendekatkan tubuhnya ke arah Arya.
'Kita kayak gini dulu aja ya Ya. Aku nyaman sama kamu rasanya', ujar Hesti pelan.
'Hmm.. terserah kamu, aku udah bulat tekat mau nunggu kamu kok', jawab Arya. Hesti tersenyum. Dan sore itu memang rasanya lebih spesial, karena Senja sekaan tak mau segera hilang di balik cakrawala, Senja masih ingin menampakkan indahnya pada semua yang ada, bahwa Senja itu memang indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar