Jumat, 11 April 2014

tentang the Ocean at the end of the lane

Kemarin lagi hunting buku Fortunatelly its a milk, tapi karena kurang diberkati akhirnya buku tersebut gagal didapatkan. Dan karena penasaran dengan buku-buku Neil Geiman akhirnya beli buku yang judulnya Di Ujung Jalan Setapak alias the Ocean at the end of the lane. Dan serius, ini buku memang aneh. Aneh dalam porsii yang positif kalau menurut saya. Karena so far saya suka buku jenis ini, semacam f5 untuk otak saya :D
Dan buku ini keren sumpah, karena genrenya yang fantasi misteri, dan karena Neil Geiman membawakan ceritanya dari sudut pandang seorang anak umur 7 tahun. Dan sosok fantasi yang ada dalam cerita juga dibawakan dengan apik. Walaupun alur ceritanya mundur tapi so far its nice. Cuman semacam kecewa, eh bukan, entah apa namanya, karena di ending ceritanya sedikit menggantung. Klimaksnya berasa cepet banget. Cepet mendadak naik, dan tiba tiba the end. Yahh walaupun si anak kecilnya kembali hidup normal, cuman ada something yang hilang, atau kurang. Entah perasaan saya doang atau memang bukunya ditulis sedemikian rupa. Atau entah karena saya baca buku sambil menunggu plecing bayem yang tak kunjung datang #abaikan
Bisa jadi itu artinya agar kita lebih menghargai proses daripada hasil, karena memang dalam proses membacanya saya berharap segera ingin tahu bagaimana ending ceritanya, walaupun di ending nya saya kecewa. Tapi kalau dipikir pikir terkadang dalam menjalani hidup kita juga seperti itu. Ingin segera mengakhiri ini semua dan membuka lembaran baru. tapi ketika kita sampai di ujung jalan kita bisa saja merasa kecewa atau senang. bagaimana kita bersikap saja.
Dan untuk a little piece of this book buku ini bercerita tentang pengalaman masa kecil dari seorang pria yang mengerikan, mencengangkan, mengesankan, worth it, dan lain sebagainya. Cerita bermula ketika ia berumur 7 tahun, dia dan keluarganya tinggal dengan bahagia di sebuah perkampungan kecil di Inggris. Kehidupannya berubah ketika keluarganya mengalami krisis finansial yang membuat keluarganya harus menyewakan sebuah kamar kosong di rumahnya. Sang penyewa merupakan seorang penambang opal dari Afrika Selatan. Nothings wrong dengan penambang ini. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang sang Penambang bunuh diri karena dia merasa bersalah kepada teman-temannya di Afrika Selatan karena ia telah menghabiskan uang yang telah dipercayakan kepadanya. Dan ternyata(lagi) kejadian ini merupakan rangkaian kejadian mengerikan yang disebabkan oleh Kutu. Makhluk pengganggu yang lolos dari Samudra. Anak itu tidak mengetahui asal muasal Kutu maupun Samudra, Kutu sendiri merupakan makhluk yang ditemukan keluarga Hempstock (keluarga Hempstock terdiri dari 3 orang, Littie, gienne, dan Mrs. Hempstock tua).
Kemudian si anak bertemu dengan Littie Hempstock, dan Littie mengajaknya ke perkebunan mereka di ujung jalan setapak. Kenapa mengajak si anak padahal si anak tidak mengetahui apa apa? Karena keluarga Hempstock lah yang pertama kali menemukan mayat si Penambang dan mereka merasa bertanggung jawab untuk melindungi si anak dari gangguan kutu.
Dan untuk lebih jelasnya silahkan beli dan baca bukunya. Next time ketika rasa malas tidak mengganjal akan saya lanjutkan lanjutan dari ceritanya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar