Senin, 08 September 2014

Unplanned sights of blue sea, white wave and black coral

First, ingin mengucapkan maaf buat Condro 'coco' karena lambe. Yang artinya take a trip to Goa Cina dan ga ngajak ngajak. Dan parahnya cuman kirim foto buat pamer bahwa IAM AT GOA CINA!!!!! Yeeee!!!!! *fireworks*

Second sorry send to Mas Sep. Sorry mas, ternyata kakiku telah menjejakkan kaki di Pulau Sempu :D

Berawal dari jumat kemarin ketika mendapat Whatsapp 'Sabtu ikut ke Goa Cina ga?' dan bales punya bales akhirnya diputuskan bahwa hari ini balik, sabtu pagi otw ke Goa Cina. Beruntung karena tinggal bawa badan, duduk manis do mobil dan ikut ke Goa Cina. Just take a responsibility for our team food. Yang artinya masakin kita nanti disana, kata mereka.

So far perjalanan menyenangkan karena jalanan yang dilewati terasa familier. Memasuki daerah Turen, mulai terasa suasana pedesaan. Kiri kanan jalan yang merupakan hutan jati dan hutan sengon adalah pemandangan yang alamiah. Begitu sampai di daerah sumbermanjing mulai terasa sekali bahwa we are at the real village. Triggernya adalah tiap rumah memiliki halaman yang luas, dan memiliki pekarangan. Ditambah jalanan yang masih sepiiiiii. Perjalanan setelah melewati sumbermanjing adalah jalan 2 arah tanpa rumah. Usut punya usut ternyata jalan yang dilewati berada di puncak gunung, yang artinya bagian kiri dan kanan adalah jurang. Belum mastiin sih, but that's what they said. And i believe without any compromise karena sejauh mata memandang kita hanya melihat bagian atas dari sebuah gunung kapur/ bukit atau apalah mereka menyebutnya. Dan melihat pemandangan gunung kapur yang ditambang entah oleh siapa, just like when i go to Sawarna last time.

Perjalanan dikatakan sudah dekat ketika kita telah sampai di Sitiharjo. Tak perlu takut kesasar, karena banyak palang palang ga bergerak yang menunjukkan arah ke Goa Cina. Dan sampailah di jalan kecil yang menuju ke Goa Cina, dimana jalannya masih merupakan jalan makadam. Yeah, feel the pain in the as*. Seandainya itu jalanan beraspal paling ga sampai 5 menit kita sudah melihat birunya laut, tapi karena makadam...... you know what lah.
Tapi pain in the as* terbayar ketika kita telah melewati pintu masuk tiket dan melihat laut. And the view is just... blue with a white wave plus some coral on the side. Memaaaangg.. warna biru dari laut adalah cerminan dari warna biru di langit. But its just.. woaaahh...

Hanya saja di Goa Cina sangat minim sekali tempat untuk meneduh, entah karena trip on Saturday or its always like this. Tapi ketika melihat pantai berasa melihat gula kacang. Semua ngumpuuulll. Tapi disisi kanan pantai tempat karang masih berdiri kokoh tidak terlalu ramai karena ombak agak tinggi. But still, its so crowded. Satu jam setelah bermain air laut yang berasa dingin + take a photo + pamer ke beberapa whatsapp contact perjalanan dilanjutkan ke Sendang Biru. Dermaga yang akan membawa ke Pulau Sempu.

Dan ketika di Sendang biru kami sempat mampir untuk melihat TPI, alias tempat pelelangan ikan. Dimana ikan Tuna sekilo hanya dihargai 15rb. Dan yang awesome adalah itu ikan segede betis bapak dihargai 30rb. Woaaahhh~~~ Sempat ada juga ikan tuna yang lebih besar, lebih tinggi daripada gue. Sempat lihat juga ada hiu seukuran anak sd kelas 3 yang tertangkap. Dan sekali lagi woaaahhh~~
Dibagian sebelah kiri ada penjual tuna yang menawarkan ikan sepanjang lengan bapak seharga 15rb. Sempat tergiur ingin membeli kalau nggak inget bahwa kita akan ke Sempu. Kapan lagi beli ikan murah. But guys, if you hate fishy smells or muddy environment or weak stomach, you better get away from here. Trust me.

Di dermaga sendang biru juga ada area memancing yang free dan sakkarepmu dewe. As long as you've fishing equipment. Area memancing ini merupakan bagian paling tepi dermaga yang terdapat banyak karang. Fish?? you don't have to ask. Bahkan terlihat juga bulu babi, abalon, clown fish, hairtail fish and i-dont-know-what-their-name fish. Tapi kita kesini bukan buat memancing, kita kesini untuk naik kapal nelayan menyeberangi laut untuk sampai ke pulau sempu yang terlihat di depan kita!!!

Setelah menyeberang perahu untuk sampai di Pulau Sempu kita harus berjalan di hutan yang tanahnya berlumpur, bukan tanahnya yang berlumpur actually. Tapi medannya berlumpur, karena everywhere we see semuanya lumpur, dan alhamdulillah tidak melihat adanya lumpur hidup. Perjalanan di medan tempur eh ralat lumpur ini adalah dari sisi belakang pulau (pantai sendang biru) menuju ke sisi depan pulau yang merupakan hamparan laut pantai selatan. And once more, this sea is just soooo blue with white wave plus some coral in the middle of the sea.

Sebagian dari kami langsung menyambut ombak yang datang, sebagian menata barang bawaan dan mendirikan tenda untuk nanti malam. Dan gueee??? Tentu saja menyambut ombak yang datang. Sore hari ombak makin naik ke daratan, beruntung karena tempat kita ngecamp lumayan jauh dan tinggi dari bibir pantai, not so close tapi kita masih bisa melihat pantai dan ombaknya. Setelah makan kegiatan nongkrong, main gitar, ngopi, main kartu dilakukan di depan tenda dan api unggun. Sebagai info : kayu kering yang sering terkena air laut berwarna biru ketika dibakar :D

Besok paginya kami kembali menyusuri medan lumpur untuk come back hoommeee. Sebelumnya kami janjian dengan bapak pemilik kapal nelayan untuk menjemput kami di tepi pulau jam 11 siang. Dan setelah kami sampai di Sendang Biru, kami lantas berjalan ke TPI untuk membeli ikan tuna untuk oleh oleh orang rumah. Tanpa mandi kami langsung cuss kembali ke Malang. Di perjalan kami berpapasan dengan rombongan karnaval di Turen. Ternyata refreshing hari itu tak berhenti di Sendang Biru karena sepanjang perjalanan kami juga menikmati melihat karnaval di sepanjang jalan di Turen.

Hanya saja, next time ketika kita balik kesini lagi, don't ever go when holiday season either weekend. Jalanannya macet paraaaaahh.



PS : Ndro, next time when you want to go there, call me and i'll be the guide ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar