Sabtu, 24 November 2012

saya hanya kurang bersyukur

Beberapa hari ini ada yang kurang dari diri saya, saya tidak ada semangat untuk bekerja, belajar atau bahkan semangat untuk menunggu hari esok. Tidak peduli esok itu sabtu atau selasa. Yang pasti tidak ada alasan saya untuk menanti hari esok.
Saya mulai berbohong, membohongi diri saya sendiri dan orang lain. Berbohong bahwa saya baik baik saja, padahal sebenarnya tidak. Berbohong bahwa saya suka padahal saya benci. Dalam hati saya berfikir, mungkin saya perlu membaca buku yang memiliki inspirasi agar saya juga memiliki inspirasi, tapi ternyata tidak ada bedanya. Saya hanya membohongi diri saya, bahwa lubang dihati saya dapat diisi dengan apapun.
Seperti buku yang saya baca, 23Episentrum, mungkin saya memerlukan perjalanan mata, hati dan hari. Saya perlu membuka mata saya, hati saya dan merenungkan hari hari saya. Jadilah kemarin saya melakukan perjalanan hati, saya coba untuk mengunjungi salah satu sanak keluarga yang sudah lama tidak saya kunjungi. Saya sudah siap dicecar karena berjanji kesana akan tetapi tak kunjung datang, tapi mereka malah menyambut saya.
Entah kenapa hati saya masih belum terbuka, mata saya masih haus akan dunia. Kemudian entah kenapa subuh jam 3 saya terbangun, saya mendapat mimpi yang saya sendiri lupa mimpi apa itu. Yang pasti saya mengatakan kepada diri saya, niat saya salah dalam menjalani hari ini. Jika saya menginginkan duniawi, maka duniawi saja yang akan saya dapat. Dan alhamdulillah hati saya mulai sedikit terisi.
Akan tetapi setelah saya kembali ke camp, lubang tersebut semakin terbuka lebar, akan tetapi saya hiraukan, dan ketika saya membuka facebook, salah satu teman saya yang merupakan senior saya mengirimkan sebuah foto di dindingnya. Isi dari foto tersebut adalah artikel dirinya di koran, yang judulnya Lulusan Terbaik Disiapkan Menjadi Calon Dosen. Dia adalah pribadi yang menyenangkan, meskipun saya tidak mengenalnya secara langsung, selalu tersenyum kalau menurut saya, meskipun saya tahu dia pasti memiliki masalah tersendiri. Semangat yang diucapkan lewat penggalan wawancara di koran tersebut membuat saya tersenyum, dan saya katakan kepada diri saya, saya juga bisa seperti dia. Saya hanya harus bersyukur, dan menetapkan niat saya. Sekali niat terpancang jalan akan terbuka lebar :)

Bismillahirrohmannirrokhi,....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar