The Tokyo Zodiac Murders, merupakan certia pembunuhan berantai sesuai dengan zodiac korbannya. Pemeran dalam buku ini adalah Detective Kiyoshi dan Detective Kazumi. Keduanya merupakan Sherlock Holmes dan Dr. Watson versi Jepang.
Cerita bermulai ketika seorang seniman gila yang ingin menciptakan Azoth, dewi yang memiliki kesempurnaan raga. Azoth dapat diciptakan dari wanita wanita / gadis yang memiliki tubuh sempurna, karena setiap gadis memiliki salah satu bagian yang sempurna dalam diri mereka dan itu sdapat dilihat dari zodiac mereka. Misalnya, seorang Aries memiliki wajah yang cantik, maka seniman tersebut akan mengambil gadis Aries dengan wajah sempurna. Kemudian Pisces memiliki dada yang indah, Virgo memiliki perut yang sempurna, Scorpio dengan pinggul yang menawan, Sagitarius dengan paha yang cantik dan Aquarius dengan kaki yang sempurna cantik. Jika masing masing bagian tubuh tersebut disatukan maka Azoth akan menampakkan dirinya. Dan sialnya seniman seniman tersebut menemukan gadis gadis tersebut, dan mereka tidak lain adalah anak anak serta keponakannya sendiri, bahkan anak kandungnya sendiri Tokiko, merupakan calon yang akan diambil kepalanya, karena dia berzodiac Aries.
Mungkin sekilas ketika membaca catatan yang dibuat oleh seniman tersebut kita berfikir bahwa buku ini akan menceritakan bagaimana lihainya seniman mengecoh polisi dan detektiv detektiv pada masa tersebut. Akan tetapi itu semua terbantahkan ketika pada bab kedua Detektiv Kiyoshi mengatakan bahwa seniman tersebut meninggal dunia sebulan sebelum gadis gadis tersebut ditemukan meninggal dunia dan dikubur di berbagai tempat yang berbeda dengan beberapa anggota tubuh yang hilang. Dan lucunya, meskipun laporan kejadian dibuka untuk khalayak umum kasus tersebut tak terpecahkan selama 40 tahun lamanya, sebelum Perang antara Jepang dan China meledak hinggal akhir perang Dunia II. dan sekarang Detective Kiyoshi dan Detektiv Kazumi mencoba untuk memecahkan misteri ini. Yang pasti catatan demi catatan yang ditinggalkan pelaku - atau para pelaku - memberikan petunjuk petunjuk menuju kebenaran sekaligus membantah hipotesa yang mereka yakini sebelumnya.
After all ceritanya hampir sama dengan cerita cerita detektiv yang lain, selalu diawali dengan hipotesa dan pemerannya menarik kesimpulan, hanya saja setiap mereka telah menemukan jawaban yang dianggap benar, babak selanjutnya adalah penyangkalan tentang apa yang mereka yakini di bab sebelumnya karena beberapa bukti tambahan mengacaukan segalanya. Gaya bahasanya ga terlalu berat, hanya saja kita dihadapkan dengan beberapa nama Jepang yang juga merupakan nama beberapa sejawrawan / orang politik di masa perang di Jepang. dan untuk catatan yang dibuat masing masing orang font yang digunakan agak kurang menarik, karena menggunakan font mesin ketik. Sick enough to see yah :D Tapi after all ini buku bagus sih, N - & kalau menurut saya. Yang saya bingungkan adalah, kenapa gramedia sampai harus menunggu selama 5 tahun untuk mencetak buku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar